Hindayani Blog - Kumpulan Soal, Share Pengalaman Kerja

Maling Teriak Maling Itu Wajar, Benarkah? Ga Penting!

Diperbarui terakhir: 28 Oktober, 2014


Prolog: Dua di antara empat orang merasa mempunyai kesempatan untuk korupsi dengan sengaja melakukannya. Satu dari dua orang terakhir mengetahui lalu merasa perlu melakukan hal yang sama. Satu orang yang paling akhir mengetahui namun tidak ingin melakukannya karena tidak sesuai dengan prinsip, sayangnya dia selalu diam dan tidak pernah melaporkan karena merasa tidak perlu. Baginya, yang penting tidak ikut-ikut korupsi dan rezekinya tidak ikut tercemar –Mungkin inilah cerminan korupsi di negeri ini. Bahkan warga negaranya yang selalu meneriakkan korupsi, melakukannya sendiri dengan sengaja. Menghalalkan hal tersebut untuk dirinya sendiri. Sebuah lingkaran tak bersudut dan tak pernah putus. Geram? Ya-

Maling Teriak Maling Wajarkah?

Maling Teriak Maling Wajarkah?

Training sudah usai, sekarang saatnya semua orang disibukkan dengan OJT (on the job training). Kami berempat yang berasal dari luar kota juga sibuk dengan penggantian biaya-biaya transportasi. Sore tadi salah satu dari temanku mengirim pesan singkat melalui BBM;

Aku lagi nulis kwitansi untuk reimburse biaya transport. Transport dari bandara-guest house 150 ribu, dari guest house-lokasi training pergi 25 ribu, pulang juga 25 ribu, jadi tiap hari ada 2 kwitansi yang terpisah. Sedangkan dari guest house-bandara juga 150 ribu.

Setidaknya begitulah isi dari pesan singkat tersebut. Dalam hati aku mengingkari isi dari kwitansi yang sedang dia tulis di sana. Karena setahuku angka-angka yang ditulis itu adalah angka-angka palsu. Otakku menolak untuk melakukan hal yang sama, hatiku juga. Tanganku seolah enggan menulis angka-angka yang sama dengan itu. Kenapa? Faktanya, kami berempat selalu berangkat bersama dan uang yang kami keluarkan untuk membayar taksi tidak pernah lebih dari 20 ribu per orang. Secara matematika, otakku langsung berhitung. Berapa uang lebihan yang akan aku dapatkan jika aku melakukan hal yang sama? Dan di mana akan aku buang uang lebihan itu? Karena jika aku menggunakan uang itu untuk makan, maka sama saja aku memakan barang haram.

Saya bukan sedang menjadi orang yang sok suci, tapi beginilah saya. Saya punya prinsip dan saya tidak ingin melewati garis. Saya yakin kejujuran itu lebih baik saya lakukan dari pada saya menyesal karena telah berbohong. Ajaran guru madrasah saya seketika itu terngiang di telinga;

Barang siapa menanam padi yang bibitnya didapatkan dari hasil mencuri, meskipun hanya satu bulir. Maka seluruh hasil tanaman padi dalam satu sawah di mana bibit tersebut ditanam akan menjadi haram ketika dimakan. Termasuk jika padi tersebut sudah berubah menjadi beras, lalu dijual. Uangnyalah yang haram. Begitu seterusnya.

Di sisi lain, sebagai makhluk sosial tentu saja saya merasa tidak enak jika harus mengkhianati ketiga teman saya tadi. Bukankah dengan menuliskan nominal angka riil di kwitansi, berarti saya sedang membuka kejujuran saya dan secara tidak langsung membuka aib mereka? Lalu apa kata mereka nanti ketika mengetahui semua itu? Tapi bagaimana pun, saya tidak ingin merusak apa pun yang menjadi prinsip hidup saya. Sekali lagi, saya tidak akan mengomentari orang lain yang sedang mengomentari apa yang saya lakukan. Saya akan mengomentari diri saya yang melakukan kesalahan dan memperbaiki diri jika melakukan hal yang salah, sedikit maupun banyak, cepat atau lambat.

Toh, saya pernah mengungkapkan kepada mereka kalau saya tidak bersedia berlaku seperti itu. Hiburku dalam hati.

Saya tidak ingin berpanjang lebar dengan keluh kesah saya, selama saya melakukan hal yang benar, kenapa saya harus takut? Tim penilai tugasnya adalah menilai, tapi yang dinilai boleh menerima saran sekaligus mengabaikannya dalam satu waktu. Easy!!!

Sebuah pelajaran: Saya tidak sedang ingin menceramahi siapa pun. Saya sedang menceramahi dan memberitahu diri saya sendiri. Barangkali seperti inilah yang terjadi di negeri ini. Ini adalah pelajaran kecil yang diberikan oleh Allah secara langsung kepada saya. Agar saya mengerti mekanismenya dan tidak terjebak. Sebuah ujian dan pelajaran yang datang juga dalam satu waktu, tergantung bagaimana seseorang melihatnya. Pikir saya, jika benar seperti inilah hukum korupsi yang terjadi di negeri ini, maka kesimpulan saya adalah semakin banyak orang di negeri ini yang tidak berprinsip. Yang pernah belajar tidak mau dan tidak pernah mengamalkan, yang tidak pernah belajar malah rajin mengamalkan. Mari tengok mereka yang tak pernah sekolah tapi lebih sopan dalam memaknai hidup, juga lebih bijak bersikap kepada alam. Mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah, nyatanya lebih bisa menggenggam prinsip mereka dan mengamalkannya.

Epilog: Kesimpulannya, maling teriak maling adalah hal umum, tapi tidak wajar. Umum karena hampir semua orang melakukannya secara sadar. Terlepas dari itu penting untuk diketahui atau tidak, semuanya kembali ke pribadi masing-masing. Buat saya, selama saya tidak melewati garis yang telah saya buat, saya aman, dan itu PENTING.

Selamat malam,

Hindayani

Leave a Reply