Hindayani Blog - Kumpulan Soal, Share Pengalaman Kerja

Refleksi Perayaan Tahun Baru Islam 1436 H 2014

Diperbarui terakhir: 27 Oktober, 2014


Refleksi Perayaan Tahun Baru Islam 1436 H 2014 – Majelis Ulama Indonesia atau MUI tahun ini mengundang seluruh umat muslim di Indonesia untuk ikut memeriahkan perayaan hari besar umat islam, yakni perayaan tahun baru islam yang jatuh pada hari ini. Acara ini akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dengan tausiyah dari para tokoh islam berikut acara lainnya yang berbau keislaman. Menurut MUI, ini merupakan sarana untuk mensyiarkan ajaran agama islam. Terlebih, umat islam sendiri khususnya kaum muda lebih memilih untuk merayakan tahun baru Masehi dengan menyulut kembang api dan atau merayakan hari Valentine dengan berbagi cokelat dan kasih sayang tiap tanggal 14 Februari. Namun, ada saja pro kontra seputar hal ini.

Tentang Refleksi Perayaan Tahun Baru Islam 1436 H 2014, Pro Kontra dan Pengalaman

Refleksi Perayaan Tahun Baru Islam 1436 H 2014

Pro Kontra Perayaan Tahun Baru Islam

Perayaan tahun baru Islam tahun ini bisa dikatakan berbeda dari pada perayaan tahun baru islam sebelum-sebelumnya. Sekarang, teknologi semakin maju sehingga semua orang bisa turut memajang DP yang berisi ucapan selamat tahun baru atau menulis status facebook berupa ucapan selamat tahun baru hijriah 1436 H. Tak elak, kabar tentang tahun baru islam ini merebak di dunia digital dengan mudahnya. Dari satu orang ke orang lainnya, ditambah dengan ajakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun-tahun yang akan datang.

Perayaan ini hanyalah sekelumit dari perayaan besar dari 1 Muharram 1436 H. Selain perayaan ini, perayaan besar sedang disiapkan oleh MUI, Majelis Ulama Indonesia. Di mana umat islam akan berkumpul bersama dengan pakaian serba putih untuk memperingati hari ini. Selain perayaan yang terlihat oleh mata telanjang ini, masing-masing individu yang beragama islam biasanya juga melalukan ibadah istimewa menyambut tahun baru. Puasa di akhir tahun dan awal tahun menjadi dua di antaranya. Selain aktivitas ini, umat islam juga memanjatkan doa akhir tahun untuk menutup tahun lalu, disusul dengan doa awal tahun untuk membuka tahun baru 1436 H ini.

Kegiatan ini dilakukan sebagai sebuah bentuk ibadah dan perayaan secara kebatinan dan spiritual berdampingan dengan pendapat yang kontra dengan hal tersebut. Di mana disebutkan bahwa pada zaman Nabi Muhammad, tidak ada perayaan tahun baru seperti yang dilakukan oleh umat islam saat ini. Bagaimana tidak, Tahun Baru Hijriah baru ditentukan setelah Nabi Muhammad Wafat, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Kala itu, penentuan tanggal 1 Syuro yang mengawali tahun hijriah adalah pada saat Nabi Hijrah dan Mekkah ke Madinah. Pendapat yang kontra dengan perayaan tahun baru islam ini membuat perdebatan yang ada dan tidak ada. Maksudnya, kadang ditentang namun juga dibiarkan, dan jika ini diteruskan, menurut ketua MUI Din Syamsudin hanya menjadi sebuah hal yang sia-sia saja.

Makna Hijrah dari Mekkah ke Madinah

Jika tahun baru hijriah ditetapkan berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, maka umat yang sekarang memaknai secara individu bahwa tahun baru merupakan titik balik untuk menuju ke arah yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik, lebih beriman, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan di tahun lalu.

Tahun baru islam selalu kurindukan

Versi saya pribadi, saya selalu merindukan tahun baru islam. Saat tinggal di kota besar, perayaan tahun baru islam ini seolah kalah dengan gemerlapnya kota, dengan hentakan musik, dan yang lainnya. Berbeda sekali dengan saat saya masih tinggal di desa. Di mana shalawat terdengar di setiap langgar (surau) di desa kami. Masjid juga dipenuhi Jama’ah yang sedang mengumandangkan sholawat untuk Rasulullah Muhammad SAW. Kebiasaan merayakan tahun baru islam itu membuat kita ingat kepada apa yang diajarkan, bagaimana sejarahnya, dan bagaimana kita introspeksi diri atas kesalahan yang telah dilakukan pada masa lalu. Kebiasaan kecil ini menghasilkan pelajaran besar dan berharga untuk seluruh penduduk desa yang turut meramaikan acara peringatan tahun baru islam.

Keramaian serupa, peringatan serupa, dan introspeksi serupa tidak saya dapatkan di kota besar ini. Di kota ini, semua berjalan seperti biasa saat tahun baru islam. Yang berjejal adalah suara sepeda motor, mobil, teriakan suporter bola, bahkan gema takbir pun sudah diganti dengan lagu-lagu masa kini (saat idul fitri). Justru yang berbeda adalah saat peringatan tahun baru imlek, saat valentin, dan yang lainnya. Bahkan maal dan pusat perbelanjaan turut memperingatinya dengan cara memberi diskon tertentu dan memajang ikon peringatan di salah satu sudut halaman maal. Menilik dari hal itu, menurut saya perayaan serupa penting dilakukan di kota besar. Agar tidak hanya mulut yang dapat berucap tetapi jiwa seolah kering. Ini adalah branding dan ajakan masal yang baik (seharusnya).

Terlepas dari pro kontra yang ada tentang refleksi perayaan tahun baru islam 1436 H 2014 ini, saya pribadi mengaku rindu dengan malam 1 syuro yang selalu berlangsung hikmat di rumah kecil di desa. Saya juga rindu dengan Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidina Muhammad yang dikumandangkan bersama-sama lengkap dengan jawabannya, Allahumma Sholli ‘Alaihi. Sebuah ungkapan yang bisa membuat bulu kuduk berdiri, jiwa terisi, hati terbuka, dan pikiran menjadi tenang. Salam untuk Nabi dan Rasulullah yang membawa ajaran islam kepada kita semua. Dunia yang lebih terang, pikiran yang tidak lagi bebal, dan hati yang lebih sejuk dengan agama yang telah disempurnakan (Al Maidah ayat 3).

Selamat melakukan refleksi perayaan Tahun Baru Islam 1436 H 2014, semoga kita bisa menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang menyejukkan dan pribadi yang mau terus berhijrah ke arah yang lebih baik.

Salam hindayani.com

Leave a Reply