Pengalaman dan Trik Mengajarkan Bahasa Inggris Sejak Dini

Pengalaman dan Trik Mengajarkan Bahasa Inggris Sejak Dini

Diperbarui terakhir: 15 Januari, 2019

Bahasa Inggris kini menjadi kebutuhan yang cukup mendasar. Selain untuk komunikasi, Bahasa Inggris kini juga menjadi salah satu bahasa yang digunakan dalam buku pelajaran. Nah, bagaimana sikap kita sebagai WNI yang notabene bukan native speaker?

Jika ditanya demikian, saya sebenarnya tidak tahu jawaban benarnya. Hanya saja, menurut pendapat saya kita tetap harus berusaha untuk bisa berbahasa inggris. Dan itu bisa dimulai sejak dini.

Jika kita merasa kurang bisa berbahasa inggris, paling tidak kita turut memajukan bangsa ini dengan menyiapkan generasi penerus yang berbahasa inggris namun tidak melupakan bahasa indonesia dan bahasa daerahnya.

Ini yang saya lakukan pada anak saya yang sampai saat ini masih dalam tahap belajar bicara. Jadi, masih dalam proses belajar.

Mengenalkan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Jawa

Pengalaman dan Trik Mengajarkan Bahasa Inggris Sejak Dini

Saya ingin bercerita sedikit tentang keluarga kami.

Anak saya saat ini berusia 2 tahun. Saat dia baru lahir, orang tua mewanti-wanti agar anak saya harus bisa bahasa jawa. Kalau bisa yang diajarkan bahasa jawa saja. Sebab pada saatnya nanti toh dia bisa bahasa indonesia dengan sendirinya.

Orang tua saya tidak mau saat nanti cucunya diajak mudik dan berbicara menggunakan bahasa indonesia dengan orang yang lebih sepuh. Kurang sopan menurut beliau. Alangkah baik jika dia bisa menggunakan bahasa jawa halus nanti. Minimal nggeh, mboten, dll.

Saya pribadi sangat setuju dengan pemikiran beliau. Toh, dulu saya juga begitu. Diajari bahasa jawa, akhirnya bisa bahasa indonesia, dan sekarang bahasa inggris. Bertahap.

Apalagi kini penggunaan bahasa daerah makin terkikis oleh zaman. Miris sekali saat saya tinggal di kota yang notabene masih di pulau Jawa tapi anak-anaknya tidak tahu bahasa Jawa. Baiklah mari kita bahas itu lebih detail nanti di paragraf berikutnya.

Berangkat dari wejangan orang tua saya itu, kami membesarkan anak dengan bahasa jawa halus sebagai bahasa sehari-hari. Sampun (sudah), dereng (belum), nggeh (iya), mboten (tidak), mandap (turun), nitih (naik), dll. Kami berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa jawa halus sejak dia lahir.

Namun demikian, ketertarikan anak kami akan bahasa lain sudah terlihat sejak dia masih bayi. Jadilah saya memperdengarkan dia lagu berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris, dan berbahasa arab (sholawatan). Saya sendiri yang menyanyikannya untuk dia.

Belajar Bahasa Inggris dari mana?

Jika Bahasa Jawa dia dapatkan dari percakapan kami sehari-hari, maka lain halnya dengan bahasa inggris. Selain lagu yang saya nyanyikan, seiring berjalannya waktu dia juga belajar dari video-video yang ada di youtube. Lebih variatif dan tidak monoton. Bagaimana hasilnya? Mari kita jawab itu nanti.

Pemakaian bahasa jawa sebagai bahasa sehari-hari kami teruskan meski tinggal di kota. Kadang, anak kami kesulitan berkomunikasi dengan teman-temannya yang tidak mengerti bahasa jawa. Sedang dia mengerti apa yang mereka katakan dalam bahasa Indonesia. Inilah yang saya bilang miris tadi di awal.

Sebab sekarang banyak anak Jawa yang tidak tahu bahasa daerahnya sendiri. Jangankan untuk menulis hanacaraka, mengetahui arti nggeh saja ada yang tidak tahu.

Dari sini kita harus mengerti bahwa sejatinya melestarikan bahasa daerah itu sama pentingnya dengan melestarikan bahasa Indonesia atau menggunakan bahasa inggris. Sebab bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan negara kita.

Untuk itulah, kami mengenalkan tiga bahasa sekaligus pada anak kami. Setidaknya tiga bahasa sih, sebab dia juga sering mendengar bahasa Arab dan Jepang.

Tiga bahasa

Untuk saat ini, anak kami Alhamdulillah, mengerti tiga bahasa itu. Bahasa inggris dari video dan lagu, bahasa jawa dari kami orang tuanya, bahasa indonesia dari teman-temannya. Komunikasinya pun beragam. Kadang dia menggunakan bahasa inggris, bahasa indonesia dan bahasa jawa.

Misalnya: Dia menggunakan No untuk mengganti tidak, Nggeh untuk iya, dan mana dengan mana.

Bahasanya nyampur.

Apakah  boleh mengenalkan bahasa sebanyak itu kepada anak?

Jujur, ini jugalah kekhawatiran saya. Apalagi setiap kali membaca artikel banyak sekali yang menyebutkan bahwa sebaiknya mengenalkan 1 bahasa saja ke anak. Bahasa Ibu.

Lalu, gimana dong? Ibunya juga suka bahasa. Hehehe.

Bahkan teman-teman saya juga sudah mulai bertanya, Apa tidak bingung nanti anaknya kalau dikenalkan 3 bahasa sekaligus? Saya makin khawatir.

Itulah mengapa saya selalu berharap semoga anak saya selalu berkembang dengan baik dalam bahasa. Saat ini dia berhitung dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia dengan lancar. Kami memang belum mengenalkan cara berhitung dalam bahasa jawa (setunggal, kalih, tigo, dst). Entah apa alasannya. Aku masih belum ingin mengenalkan itu. Ada kekhawatiran tersendiri. Apalagi dia baru belajar berhitung.

Mungkin beberapa hari ke depan akan dimulai belajar berhitung dalam bahasa Jawa.

Warna pun dia sebutkan dalam dua bahasa, indonesia dan inggris.

Saya rekomendasikan artikel ini untuk dibaca: Contoh Introduction Cara Perkenalan Diri dalam Bahasa Inggris

Bagaimanapun itu, poinnya adalah…

Meski saya bukan keturunan bule, suami juga bukan. Bahasa inggris memang bisa diajarkan sejak dini kepada anak. Saya justru kaget saat dia berhitung dalam bahasa inggris. Karena saya tidak merasa pernah mengajarinya.

Bahasa bisa dipelajari dari banyak hal. Asal kita mau.

Mulailah dengan vocab, benda-benda di sekitar. Ini akan jauh lebih mudah.

Meski kadang saya khawatir, pencapaian bahasa anak saya membuat saya lega. Sebab dia mau berbahasa dengan baik saat di rumah. Bisa menempatkan diri. Dia sudah tahu kapan menggunakan kelinci, kapan harus bilang rabbit.

Suatu ketika saat dia berbicara dengan temannya menggunakan kata bik (rabbit) dan temannya tidak paham. Saat itu juga dia mengubahnya menjadi ci (kelinci). Jadi pada intinya adalah bahasa selain bisa dikenali lewat benda sekitar juga lingkungan sekitar.

Lewat benda di sekitar kita bisa perbanyak kosakata. Lewat lingkungan sekitar kita bisa tahu cara menempatkan diri.

Setidaknya itulah sedikit cerita tentang pembelajaran bahasa sejak dini yang saat ini masih on process. Semoga anak-anak dan generasi penerus kita bisa mencintai bahasa daerah dan bahasa nasional. Juga mahir dalam berkomunikasi dengan bahasa asing saat diperlukan.

Hindayani, S.Si.

Hindayani, S.Si.

Hai! Saya Hindayani, S.Si. Lulusan Matematika, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan predikat cumlaude. Saya suka membaca, menulis, berbagi ilmu dan pengalaman untuk meng-update dan meng-upgrade diri saya ke arah yang lebih baik. Yuk like Fanpage Hindayani dan subscribe Youtube Channelnya ya!

You may also like...

Kalau ada pertanyaan, Isi komentarnya di bawah ya!

avatar
  Subscribe  
Notify of