Hindayani Blog - Kumpulan Soal, Share Pengalaman Kerja

Untuk Renungan Bersama: Jika Bukan dengan Nilai Minimal Kelulusan, Lalu Apa Lagi?




Miris memang membaca banyak artikel di internet tentang sistem pendidikan negeri ini yang masih rendah meski telah mengalami berbagai perombakan. Penerapan nilai minimal kelulusan di Ujian Nasional sudah memasuki tahun ke-9. Artinya, sudah 8 tahun lamanya sistem ini diterapkan di Indonesia. Sayangnya, hingga tahun 2013 lalu, upaya pertumbuhan pendidikan di Indonesia belum menemukan titik terbaiknya. Hal ini dibuktikan dengan makin banyaknya praktek-praktek korupsi yang dilakukan oleh oknum guru dan atau managerial serta tindak kekerasan yang dilakukan oleh para murid. Bahkan, tahun 2013 lalu diakui sebagai tahun terburuk bagi dunia pendidikan. Sebabnya, saat ujian nasional ada saja sekolah yang tidak dapat jatah soal hingga harus mendapatkan soal dengan fotokopi dengan kertas tipis.

Dari sini saja sudah sangat bisa dilihat, betapa masih kurangnya support atas pendidikan di tanah air. Dari segi tenaga pengajar atau pendidik, sarana dan prasarana, hingga masalah teknis berupa persediaan soal ujian pun perlu dibenahi. Bangsa ini harus belajar dar kekurangan-kekurangan sebelumnya, sehingga bisa mendapatkan perkembangan yang lebih baik lagi. Jangan hanya berfokus pada murid atau fokus pada nilai minimal yang dibebankan hanya pada murid saja. Akan lebih bijak, jika sekolah juga memiliki nilai standar (minimal kelulusan) untuk bisa melaksanakan ujian nasional. Ini tentu akan membuat sekolah-sekolah utamanya para guru ikut berlomba-lomba. Sehingga kemungkinan soal bocor pun sangat sedikit, dan kemungkinan korupsi pun bisa dikurangi.

Nilai Minimal Kelulusan


Jika nilai minimal bukan solusi, apa lagi yang bisa dilakukan?

Guru Pendidik dan Guru Motivator

Menilik cara pembelajaran di Indonesia lalu membandingkannya dengan cara belajar di luar negeri tentulah memiliki perbedaan yang sangat jauh. Di Indonesia, kesadaran murid akan pentingnya belajar masih terbilang kecil. Ini mengakibatkan perlunya kerja keras guru untuk mendidik muridnya dengan lebih maksimal. Selain itu, cara terbaik yang bisa diterapkan sebenarnya adalah peningkatan kesadaran akan pentingnya pelajaran. Di sini, guru selain bisa menjadi pengajar seharusnya juga bisa menjadi motivator bagi murid-muridnya. Jadi, untuk mendapatkan lulusan terbaik. Guru seharusnya memiliki 2 keahlian tersebut. Tak hanya bisa menularkan ilmu, tapi juga memberikan motivasi kepada muridnya untuk mau ditulari ilmu dan mengembangkan ilmu tersebut

Nilai Ujian Minimal, Solusi?

Menurut penulis, nilai ujian yang diterapkan oleh pemerintah itu merupakan metode yang bagus. Namun, akan bagus lagi jika metode ini didukung dan diimbangi dengan hal-hal yang lebih memacu potensi siswa dan guru dalam waktu bersamaan. Jika muridnya diminta untuk berlomba lulus, maka gurunya juga. Jika sebelumnya hanya berpatok pada nilai ujian, sekarang nilai attitude juga menjadi perhitungan, kan? maka terapkan hal tersebut juga untuk guru. Selain bisa memberikan contoh langsung pada murid, fungsi dasar guru sebagai agen digugu dan ditiru juga bisa langsung diberikan.

Belajar dari Desa, Sebuah Cerminan

Terkadang penulis heran, mengapa orang yang tinggal di desa dengan segala keterbatasan dapat memunculkan seorang siswa yang berbakat? Setelah penulis teliti, ternyata kuncinya ada pada ketulusan, kegembiraan saat belajar, kesadaran akan pentingnya belajar, dan kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan aturan-aturan pemerintah. Untuk mereka yang tinggal di desa dan bersekolah dengan keterbatasan sarana dan prasarana, nilai minimal ujian bukan menjadi momok yang harus mereka kejar. Yang mereka kejar adalah sebuah kata BISA, bukan kata LULUS. Yang mereka inginkan adalah BERILMU, bukan meraih nilai di atas NILAI MINIMAL KELULUSAN. Mereka benar-benar belajar, bukan sekedar mengejar hal sesaat berupa nilai saja.

Leave a Reply